Saturday, April 24, 2021

Setahun Pandemi, Muncul Tren Positif untuk Masa Depan Media

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA---Telepon seluler saat ini tidak hanya sebatas alat komunikasi, tetapi juga sebagai sumber informasi dari berbagai media daring, Kamis (3/9/2020). Seiring perkembangan teknologi digital, media cetak pun mengembangkan media daring.

Krisis akibat pandemi Covid-19 memengaruhi bisnis media, tetapi tidak semuram perkiraan semula. Jumlah pembaca berita yang meningkat dua kali lipat selama pandemi dan belanja iklan untuk media yang juga meningkat menunjukkan arah positif untuk masa depan media.

Berdasarkan survei Nielsen di 11 kota besar di Indonesia, pembaca berita naik sekitar 100 persen dalam setahun terakhir. Jika pada kuartal keempat 2019 jumlah pembaca berita, baik media cetak maupun media daring, mencapai 6,9 juta orang, pada kuartal keempat 2020 mencapai 12,9 juta.

Peningkatan jumlah pembaca terjadi pada media cetak maupun media daring. Namun, kenaikan angka pembaca media cetak, dari 2,1 juta menjadi 2,6 juta, tidak dapat diartikan sebagai kenaikan penjualan, tetapi dapat terjadi karena lebih banyak anggota keluarga yang beraktivitas di rumah selama masa pandemi.

Dari sisi iklan, perkiraan awal sebagian besar pengiklan akan memotong anggaran iklannya secara drastis selama masa pandemi. Namun, temuan Nielsen menunjukkan hal yang berbeda. Belanja iklan di televisi, media cetak, radio, dan media digital yang pada 2019 mencapai Rp 182 triliun, pada 2020 meningkat menjadi Rp 229 triliun dengan tren yang mulai stabil sejak semester kedua 2020.

Direktur Eksekutif Nielsen Indonesia Hellen Katherina, Kamis (22/4/2021), mengatakan, porsi kue iklan terbesar masih tetap untuk televisi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sementara porsi iklan untuk media cetak dan radio menurun. Porsi kue iklan untuk media digital meningkat empat kali lipat, tetapi hal ini kemungkinan dipengaruhi juga perbaikan teknologi yang dilakukan Nielsen untuk menangkap iklan-iklan digital.

Meski iklan di media cetak menurun, peningkatan jumlah pembaca memberikan optimisme untuk bisnis media cetak. Ketua Harian Serikat Perusahaan Pers (SPS) Januar Primadi Ruswita mengatakan, media cetak selama ini memang mengandalkan pendapatan dari penjualan koran dan pendapatan iklan. Meskipun begitu, dia yakin media cetak masih akan bertahan dengan melakukan transformasi digital dan meningkatkan kualitas konten beritanya.

”Ibarat kapal layar yang fungsinya sudah tergantikan oleh kapal motor, kapal layar sampai sekarang tetap ada, tidak hilang sama sekali. Media cetak juga akan tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi bisnis utama,” kata Januar, Jumat (23/4/2021).

Menyesuaikan diri

Dengan lanskap berita dan iklan yang berubah seiring perkembangan teknologi digital, kata Januar, media cetak pun harus menyesuaikan diri. Mengembangkan media daring/digital dengan tetap mempertahankan media cetak dengan konten yang mengedepankan berita mendalam dan infografis menjadi solusi untuk tetap bertahan.

”Hampir semua (media cetak) telah melakukan transformasi ke media digital, tetapi masih pada tahap meng-online-kan konten-konten media cetaknya. Baru beberapa media yang sudah menjalankan model bisnis sebenarnya dari media digital,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wenseslaus Manggut juga optimistis ada tren positif untuk perkembangan industri media. ”Tadinya kami ragu, pada survei (AMSI) pada Mei 2020 banyak (pengelola media digital) yang menyatakan hanya bisa bertahan 3-6 bulan ke depan. Kenyataannya, sampai sekarang tidak ada yang berguguran karena ternyata ada peningkatan pendapatan,” katanya.

KOMPAS/YOVITA ARIKA----Dampak disrupsi digital dan pandemi Covid-19 pada industri media.

Peningkatan jumlah pembaca berita selama pandemi, kata Wenseslaus, juga mengajarkan media bahwa masyarakat membutuhkan informasi. Ke depan, konten berita yang terkait langsung dengan kebutuhan pembaca menjadi sangat penting, terutama untuk media-media di daerah.

”Traffic (lalu lintas) berita selama pandemi meningkat karena masyarakat butuh informasi untuk rujukan mereka bertindak. Ke depan, proximity (kedekatan dengan pembaca) ini penting. Informasi tentang politik mungkin (tetap) dibutuhkan, tetapi tidak sebesar kebutuhan informasi kesehatan,” ujarnya.

Perubahan lanskap konten maupun bisnis media juga menjadi kesempatan media untuk memaksimalkan kekuatan digital, baik bagi media cetak maupun media digital. Survei Nielsen menunjukkan, pola konsumsi masyarakat tidak sepenuhnya bergeser dari media konvensional ke digital. Media digital digunakan sebagai medium penghubung lain, baik televisi, media cetak, radio, untuk mengonsumsi konten baik hiburan maupun informasi.

Oleh   YOVITA ARIKA

Editor:   ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 24 April 2021

No comments:

Post a Comment

Prawacana

Setahun Pandemi, Muncul Tren Positif untuk Masa Depan Media

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA---Telepon seluler saat ini tidak hanya sebatas alat komunikasi, tetapi juga sebagai sumber informasi dari ber...