Thursday, July 30, 2020

Hadi Ibnu Sabililah, Kekuatan Pena dan Lensa

KOMPAS/MELATI MEWANGI---Pendiri Komunitas Pena dan Lensa Hadi Ibnu Sabilillah mengajak anak muda bisa mengembangkan bakatnya di dunia menulis dan sinematografi.

Hadi Ibnu Sabilillah mendirikan Komunitas Pena dan Lensa (Kopel) yang fokus mempelajari jurnalistik dan sastra. Belakangan, komunitas tertarik pada fotografi, grafis, dan sinematografi.

Jiwa muda Hadi Ibnu Sabilillah (24) pernah bergejolak sekaligus gelisah lantaran di Purwakarta, Jawa Barat, hasratnya pada dunia menulis dan sinematografi tidak menemukan tempat berlabuh. Akhirnya, ia membangun sendiri komunitas menulis dan sinematografi.


Tuesday, July 14, 2020

Perubahan UU Pokok Pers

CATATAN HUKUM: SATYA ARINANTO, Fakultas Hukum UI

MASALAH kemungkinan perubahan UU (Undang-undang) Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers menghangat kembali akhir-akhir ini. Menurut Menteri Penerangan Harmoko, UU tersebut telah berlaku selama 14 tahun, karena itu harus disesuaikan, khususnya yang mencakup pengembangan teknologi profesionalisme dan operasionalisasinya. (Kompas, 12/12).


Agama, Pers, dan Pencerahan Peradaban

Lewat karyanya, Megatrends 2000: Ten New Directions for The 1990's, Naisbit dan Aburdene melihat munculnya kebangkitan agama  (religiousrevival) lewat peningkatan spiritualitas di pelbagai  penjuru dunia. Dibawah tarikan gravitasi tahun 2000, kekuatan spiritualitas mengimbangidominasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Orang modern tidak lagi melihatilmu dan teknologi sebagai puncak  prestasi peradaban manusia, tapi melihat agama sebagai salah satu  alternatif bagi perimbangan kehidupan material. Kita boleh setuju atau menolak ramalan kedua futurolog itu. Tetapi bahwa dipelbagai belahan dunia sekarang kehidupan beragama menjadi  semakin marak,adalah hal yang tidak bisa dipungkiri. Di Indonesia pun,dari tahun ketahun kita merasakan adanya peningkatan kehidupan beragama. Di tengahderasnya serbuan informasi baik lewat media cetak  maupun elektronik, orangmakin memerlukan agama sebagai pegangan hidup yang diharapkan dapatmemberikan penjelasan atau panutan bagi masa  depan dirinya, keluarganya,dan bahkan bangsanya. Di sisi lain,   masyarakat beragama juga dihadapkanpada pilihan untuk meresponi  modernitas dan modernisasi secara kritis dankreatif dengan  memanfaatkan referensi ajaran agama. Bagaimanakah mediamassa, khususnya pers nasional kita, meresponi perkembangan itu?


Media Massa dari Politik ke Bisnis

PERATURAN Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994, yang membuka sektor media massa di Indonesia untuk modal asing, merupakan terobosan deregulasi. Ini adalah bagian dari antisipasi Pemerintah untuk pelaksanaan persetujuan GATT Putaran Uruguay. Di India, The Financial Times (FT) sudah membentuk usaha patungan dengan kelompok penerbit lokal untuk menerbitkan FT edisi India. Di Cina, McGraw Hill menerbitkan Business Week edisi bahasa Mandarin, bekerja sama dengan BUMN RRC.


Raden Mas Tirtoadisuryo Penggubah Sejarah di Pergantian Abad

BERBICARA tentang Raden Mas Tirtoadisuryo, orang tak bisa melupakan jasa Pramudya Ananta Toer. Dengan kepiawaiannya sebagai penulis kelas satu, Pramudya seolah-olah telah "menciptakan kembali" dalam dunia ingatan, kata dan imajinasi orang, sosok Tirtoadisuryo yang sudah terkubur dan dilupakan. Pramudya telah mengabadikan jejak langkahnya, bukan hanya dalam sebuah buku sejarah, akan tetapi juga empat buku roman sejarah yang amat indahnya.


Studi Pers Indonesia Kontemporer

STUDI atas pers Indonesia boleh dikata masih sedikit. Untuk melihat faktanya, tidak pasti setahun sekali ada satu terbitan yang mengupas secara serius tentang Pers Indonesia. Yang lebih sering muncul merupakan kumpulan tulisan tentang pers atau biografi seorang jurnalis Indonesia. Menyebut yang paling akhir sekali, boleh disebut nama David T. Hill (1994), atau sebelumnya ada Harsono Suwardi (1993), Bambang Sadono (1993), Daniel Dhakidae (1991) -(tidak/belum? dipublikasikan); Francois Raillon (1985); Amir Effendi Siregar (1983), Edward C. Smith (1983) Oey Hong Lee (1971). Dan tak dapat dilupakan lupa karya Tribuana Said (1988) yang mengisi kekosongan literatur tentang sejarah pers Indonesia, sementara karya Ahmat Adam (1984 & 1993) belum banyak bisa diakses publik. Semua yang terbit di atas banyak memberikan tekanan pada perkembangan pers Indonesia setelah kemerdekaan 1945. Kecuali Edward Smith, Ahmat Adam dan Oey Hong Lee, seluruhnya memfokuskan diri pada periode pers Indonesia pada masa Orde Baru.


Pers Mahasiswa: Persemaian Public Sphere Civil Society

Pers mahasiswa, apapun bentuk dan formatnya, hadir dengan muatan nilai‑nilai ideologis terentu. Pada masa pra kemerdekaan, berkala semacam "Jong Java", "Ganeca", "Indonesia Merdeka", "Soeara Indonesia Moeda", "Oesaha Pemoeda", ataupun "Jaar Boek", lahir dengan semangat kental untuk menjadi alat penyebaran ide-ide pembaharuan clan perjuangan akan arti penting kemerdekaan. Demikian haInya dengan pers mahasiswa yang lahir pada masa paska kemerdekaan.


Prawacana

Hadi Ibnu Sabililah, Kekuatan Pena dan Lensa

KOMPAS/MELATI MEWANGI---Pendiri Komunitas Pena dan Lensa Hadi Ibnu Sabilillah mengajak anak muda bisa mengembangkan bakatnya di dunia men...