Thursday, March 17, 2022

'Kalau Koran Enggak Ada, Apanya yang Dijual?'


Reporter Tirto mendatangi sejumlah agen dan penjual koran eceran di Jakarta dan mereka membagi kisah bagaimana bertahan di tengah bisnis jualan media cetak yang makin seret omzet.

Kios koran “Lily" milik Helmi paling mencolok di antara jejeren kios lain di satu trotoar Jalan Kramat Lontar, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Ukuran kiosnya sekira 2 x 1 meter. Di depannya ada rak tingkat tiga. Paling bawah tempat tabloid seperti HomeNovaOtomotif, dan Wanita Indonesia.

Di rak tengah ada puluhan koran dipajang, di antaranya Harian TerbitThe Jakarta PostJawa PosKompasMedia IndonesiaPos KotaRakyat MerdekaRepublikaSuara PembaruanSuper BallTempoTop SkorWarta Kota, dan Top Skor. Rak paling atas terisi majalah. Beberapa yang terkenal seperti BoboTempoGadisGatraIntisariMisteriSedapTrubusUmmi, dan majalah laki-laki Men’s Health. Di antara tumpukan itu ada beberapa teka-teki silang yang kovernya sudah pudar.

Wednesday, May 12, 2021

Media Arus Utama Lebih Percaya Diri Merambah Digital

 

Disrupsi digital tak lagi dimaknai sebagai hambatan oleh media arus utama, tetapi sebuah peluang untuk lebih mengembangkan konten yang berkualitas dan lebih luas jangkauannya.

Media massa arus utama semakin percaya diri menghadapi tantangan perkembangan dunia digital. Hadirnya media baru dan media sosial seiring peningkatan infrastruktur internet mulai tidak lagi dianggap saingan, musuh, atau ancaman. Media arus utama yang memiliki keunggulan menghasilkan konten terverifikasi dan diawasai lembaga negara harus mampu berkolaborasi dan beradaptasi serta kreatif mengembangkan berbagai model bisnis.

Penetrasi media massa, seperti televisi, radio, koran, tabloid, dan majalah, di Indonesia tahun 2019-2020 menurun. Sebaliknya, penetrasi internet justru meningkat. Waktu penggunaan media televisi sekitar 5 jam, radio 2 jam, media cetak 1,5 jam, serta media sosial sekitar 3 jam.

Hal tersebut mengemuka di webinar bertajuk ”Tantangan Industri Media Menghadapi Era Digitalisasi, Sabtu (8/5/2021). Acara yang digelar Kelas Ekonomi Politik Media Program Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi Universtas Mercu Buana Jakarta itu menghadirkan perwakilan dari media cetak, media daring, radio, televisi, dan akademisi.

Anggota Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), Haryo Ristamadji, mengatakan, berkembangnya perilaku masyarakat dalam mencari informasi dan hadirnya media baru serta media sosisal dipandang tidak lagi jadi lawan atau ancaman. Di era kolaborasi dan konverjensi, media arus utama yang memiliki kekuatan verifikasi, check and balance, pertanggungjawaban publik, dan diawasi Dewan Pers harus mampu beradaptasi dengan masuk ke dalam permainan yang berkembang saat ini.

”Kalau ada kerumunan banyak di media sosial, ya, harus bermain juga di sana. Tinggal kebijakan media untuk beradaptasi di editorial dan bisnisnya. Momen ini jadi peluang untuk bisa mengedukasi kerumunan dengan konten yang benar. Model bisnis pun harus dua kaki atau lebih. Sebab, yang namanya bisnis media massa ini, punya kerumunan berarti bisnis juga bisa berjalan,” papar Haryo yang juga Wakil Pemimpin Redaksi Radio Elshinta.

Elshinta yang merupakan radio informasi dan berita selama 24 jam tanpa musik/ lagu, ujar Haryo, juga tak berhenti di radio. Untuk menyebarkan konten yang menjangkau lebih banyak kerumunan, Elshinta mulai mengembangkan pembuatan video hingga berita tertulis untuk media sosial. Interaksi dengan pendengar juga semakin baik dengan memanfaatkan media sosial.

Wakil Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) Neil R Tobing mengatakan, disrupsi digital membuat televisi harus memiliki layanan baru.  Namun, hal ini masih menghadapi masalah migrasi dari televisi analog ke digital. Bahkan, Indonesia termasuk lamban dalam bidang ini dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Padahal, televisi digital memungkinkan layanan tidak hanya disajikan melalui layar televisi, tetapi juga dapat diakses lewat komputer, laptop, dan telepon pintar. Televisi digital harus menawarkan layanan tambahan, seperti panduan program elektronik (EPG), penyiaran konten televisi melalui internet (IPTV), hingga video on demand (VOD).

Di era sekarang, setiap orang sudah bisa memproduksi konten dan menghadirkan tontonan. Misalnya, artis yang mau curhat tidak lagi memilih televisi, tetapi bisa melalui saluran Youtube artis lain yang penontonnya jutaan.

Friday, May 7, 2021

Sapto Anggoro Tinggalkan Tirto.Id


---Sapto Anggoro tinggalkan Tirto.Id. (Ngopibareng)

Sapto Anggoro, CEO media siber Tirto.Id membuat kejutan. Dia mundur dari media yang didirikannya tahun 2016, sekaligus melepas kepemilikan sahamnya pada PT Tirta Adi Surya, pengelola Tirto.Id.

Alumni Stikosa AWS Surabaya yang lahir 55 tahun lalu di Jombang ini memiliki jam terbang tinggi sebagai jurnalis, mula-mula di harian Surabaya Post, kemudian harian Berita Buana, Republika, kemudian  Detik.com.

Saturday, April 24, 2021

Setahun Pandemi, Muncul Tren Positif untuk Masa Depan Media

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA---Telepon seluler saat ini tidak hanya sebatas alat komunikasi, tetapi juga sebagai sumber informasi dari berbagai media daring, Kamis (3/9/2020). Seiring perkembangan teknologi digital, media cetak pun mengembangkan media daring.

Krisis akibat pandemi Covid-19 memengaruhi bisnis media, tetapi tidak semuram perkiraan semula. Jumlah pembaca berita yang meningkat dua kali lipat selama pandemi dan belanja iklan untuk media yang juga meningkat menunjukkan arah positif untuk masa depan media.

Berdasarkan survei Nielsen di 11 kota besar di Indonesia, pembaca berita naik sekitar 100 persen dalam setahun terakhir. Jika pada kuartal keempat 2019 jumlah pembaca berita, baik media cetak maupun media daring, mencapai 6,9 juta orang, pada kuartal keempat 2020 mencapai 12,9 juta.

Prawacana

'Kalau Koran Enggak Ada, Apanya yang Dijual?'

Reporter  Tirto  mendatangi sejumlah agen dan penjual koran eceran di Jakarta dan mereka membagi kisah bagaimana bertahan di tengah bisnis j...