Selasa, 25 Februari 2020

Menjaga Marwah Perusahaan Pers


Meski merupakan entitas bisnis, perusahaan pers mengemban fungsi sosial yang sangat penting untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis.

KOMPAS/JUMARTO YULIANUS--Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly menyampaikan gagasannya dalam Konvensi Nasional Media Massa dengan tema ”Daya Hidup Media Massa di Era Disrupsi, Tata Kelola Seperti Apa yang Dibutuhkan?” di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (8/2/2020).

Pers mempunyai fungsi sosial sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Selain itu, pers juga mempunyai fungsi ekonomi, yaitu sebagai entitas bisnis untuk menjaga kelangsungan hidup pers itu sendiri dan  mendapatkan keuntungan.


Selasa, 14 Januari 2020

Jurnalisme Data Jadi Pembeda Mutlak Media Arus Utama dari Pendengung

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO (RO--Pengunjung mendatangi stan peserta Bandung Zine Fest 2013 di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (1/9/2013). Media cetak Zine atau Fanzine merupakan media cetak alternatif berekspresi serta menjadi cikal bakal Jurnalisme Warga (citizen journalism). Seiring berkembangnya komunitas underground di Indonesia, zine juga menjadi media berkespresi dan menjadi bagian persebaran wacana serta komunikasi dalam komunitas.

Wartawan dan pendengung bersaing memperebutkan perhatian pembaca. Analisa berbasis data menjadi senjata pembeda media arus utama dari pendengung.

Perbedaan hasil liputan wartawan dengan para pendengung atau buzzer yang semakin tipis menjadi tantangan bagi media arus utama. Penekanan liputan kepada ketajaman analisa berbasis data tetap menjadi senjata pembeda jurnalisme dengan opini sekaligus pelindung wartawan serta perusahaan media dari tuntutan hukum pidana maupun perdata.


Minggu, 10 November 2019

Aristides Katoppo, Jurnalis “Pembangkang” yang Selalu Mau Belajar

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN--Diskusi “Mengenang Aristides Katoppo, Nurani Jurnalis di Tengah Ketidakpastian,” di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Jurnalisme tak akan mati jika jurnalis mau berupaya keras menghasilkan kualitas jurnalisme yang berbasis nalar, naluri, nurani, dan nyali. Tantangan lain, jurnalis tak hanya sebagai pelapor, tetapi juga verifikator.

“Matinya media cetak mungkin sulit dihindari, tetapi kematian jurnalisme adalah mengerikan”. Kekhawatiran inilah yang dirasakan Aristides Katoppo (81), wartawan senior yang baru saja berpulang kepada Hyang Khalik, Minggu (29/9/2019). Meski ada segurat kegalauan, tapi Aristides tetap yakin, jurnalisme tidak akan mati apabila jurnalis mau berupaya keras menghasilkan kualitas jurnalisme  yang berbasis nalar, naluri, nurani, dan nyali.


Senin, 25 Maret 2019

Jurnalistik

Tiga ribu tahun yang lalu raja Mesir Amenhotep mengirim ratusan berita kepada perwira-perwiranya di propinsi-propinsi untuk memberitahukan apa yang terjadi di ibukota. Di Roma 2000 tahun yang lalu ”ACTA DIURNA ” (Karya Harian) pekerjaan Senat, keputusan-keputusan pemerin tah, kelahiran dan kematian penting ditempelkan di tempat-tempat umum. Selama seluruh Abad Pertengahan laporan-laporan berkala penting bagi para pengusaha.

Kebutuhan untuk mengetahui apa yang terjadi merupakan kunci jurnalistik sepanjang masa. Tetapi jurnalistik baru benar-benar mulai, ketika huruf-huruf yang dapat dipindah-pindahkan mulai dipergunakan di Eropa, yaitu kira-kira pada tahun 1440. Lembaran-lembaran berita dan pamflet-pamflet ketika itu dapat dicetak lebih cepat, lebih banyak dan lebih murah.


Prawacana

Menjaga Marwah Perusahaan Pers

Meski merupakan entitas bisnis, perusahaan pers mengemban fungsi sosial yang sangat penting untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang de...