Wednesday, May 12, 2021

Media Arus Utama Lebih Percaya Diri Merambah Digital

 

Disrupsi digital tak lagi dimaknai sebagai hambatan oleh media arus utama, tetapi sebuah peluang untuk lebih mengembangkan konten yang berkualitas dan lebih luas jangkauannya.

Media massa arus utama semakin percaya diri menghadapi tantangan perkembangan dunia digital. Hadirnya media baru dan media sosial seiring peningkatan infrastruktur internet mulai tidak lagi dianggap saingan, musuh, atau ancaman. Media arus utama yang memiliki keunggulan menghasilkan konten terverifikasi dan diawasai lembaga negara harus mampu berkolaborasi dan beradaptasi serta kreatif mengembangkan berbagai model bisnis.

Penetrasi media massa, seperti televisi, radio, koran, tabloid, dan majalah, di Indonesia tahun 2019-2020 menurun. Sebaliknya, penetrasi internet justru meningkat. Waktu penggunaan media televisi sekitar 5 jam, radio 2 jam, media cetak 1,5 jam, serta media sosial sekitar 3 jam.

Hal tersebut mengemuka di webinar bertajuk ”Tantangan Industri Media Menghadapi Era Digitalisasi, Sabtu (8/5/2021). Acara yang digelar Kelas Ekonomi Politik Media Program Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi Universtas Mercu Buana Jakarta itu menghadirkan perwakilan dari media cetak, media daring, radio, televisi, dan akademisi.

Anggota Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), Haryo Ristamadji, mengatakan, berkembangnya perilaku masyarakat dalam mencari informasi dan hadirnya media baru serta media sosisal dipandang tidak lagi jadi lawan atau ancaman. Di era kolaborasi dan konverjensi, media arus utama yang memiliki kekuatan verifikasi, check and balance, pertanggungjawaban publik, dan diawasi Dewan Pers harus mampu beradaptasi dengan masuk ke dalam permainan yang berkembang saat ini.

”Kalau ada kerumunan banyak di media sosial, ya, harus bermain juga di sana. Tinggal kebijakan media untuk beradaptasi di editorial dan bisnisnya. Momen ini jadi peluang untuk bisa mengedukasi kerumunan dengan konten yang benar. Model bisnis pun harus dua kaki atau lebih. Sebab, yang namanya bisnis media massa ini, punya kerumunan berarti bisnis juga bisa berjalan,” papar Haryo yang juga Wakil Pemimpin Redaksi Radio Elshinta.

Elshinta yang merupakan radio informasi dan berita selama 24 jam tanpa musik/ lagu, ujar Haryo, juga tak berhenti di radio. Untuk menyebarkan konten yang menjangkau lebih banyak kerumunan, Elshinta mulai mengembangkan pembuatan video hingga berita tertulis untuk media sosial. Interaksi dengan pendengar juga semakin baik dengan memanfaatkan media sosial.

Wakil Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) Neil R Tobing mengatakan, disrupsi digital membuat televisi harus memiliki layanan baru.  Namun, hal ini masih menghadapi masalah migrasi dari televisi analog ke digital. Bahkan, Indonesia termasuk lamban dalam bidang ini dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Padahal, televisi digital memungkinkan layanan tidak hanya disajikan melalui layar televisi, tetapi juga dapat diakses lewat komputer, laptop, dan telepon pintar. Televisi digital harus menawarkan layanan tambahan, seperti panduan program elektronik (EPG), penyiaran konten televisi melalui internet (IPTV), hingga video on demand (VOD).

Di era sekarang, setiap orang sudah bisa memproduksi konten dan menghadirkan tontonan. Misalnya, artis yang mau curhat tidak lagi memilih televisi, tetapi bisa melalui saluran Youtube artis lain yang penontonnya jutaan.

Namun, ujar Neil, konten berkualitas tetap diyakini menjadi kunci sukses. Dalam perkembangannya, penonton TV di Indonesia diprediksi menyukai konten dengan kearifan lokal yang dalam dan berbasis komunitas. Namun, distribusinya harus cepat dan disajikan dalam berbagai platform.

”Ya, televisi pun kini harus bisa masuk. Sekarang tidak lagi ancaman, tetapi harus berkolaborasi dengan media baru dan media sosial. Program televisi dipromosikan lewat beragam media sosial karena interaksi/engagement dengan audiens bisa berjalan dan berdampak baik untuk televisi,” tutur Neil yang juga Direktur dan Sekretaris Perusahaan  PT Visi Media Asia.

Ada peluang tumbuh

Wakil Pemimpin Harian Kompas Tri Agung Kristanto mengatakan, media cetak mengalami penurunan bukan hanya akibat pandemi Covid-19, melainkan juga karena disrupsi digital. Media cetak yang tidak mampu mengembangkan diri dan beradaptasi tentunya akan punah. Media cetak mulai memperkuat dan mengembangkan media digital.

Dari temuan WAN-IFRA 2020/2021, secara global pendapatan dari iklan media cetak turun 19,5 persen pada 2020. Pendapatan dari sirkulasi turun 13 persen. Namun, dari Jerman ada yang melaporkan peningkatan pendapatan dari pembaca media cetak naik 5 persen. Sementara The New York Times pertumbuhan pelanggan digital dan pendapatannya naik.

Menurut Tri, di masa depan, media di Indonesia yang dari sisi iklan saat ini menurun mulai merambah ke media digital. Seperti, misalnya, Kompas yang terus beradaptasi dengan pekembangan digital lewat media daring berlangganan/berbayar www.kompas.id.

Konsekuensinya, kebutuhan untuk merekrut tenaga di bidang teknologi informasi menjadi penting. Ada kebutuhan pewarta video untuk membuat video ataupun animator 3D untuk mengerjakan grafis tiga dimensi demi memperkuat sajian digital Kompas.id.

”Tidak cukup dua kaki untuk menumbuhkan media cetak. Memang media cetak bukan lagi terbesar, akan klasik. Seperti halnya musik klasik, tetap ada yang menikmati. Karena itu, terus dikembangkan kaki baru untuk meningkatkan pendapatan yang tak tergantung iklan semata. Kami mengembangkan audiens dari Kompas Institute, acara (event), Kompas Collaboration Forum, dan lain-lain untuk menjawab tantangan digitalisasi, enggak hanya karena pandemi,” papar Tri.

Ketua Umum Asosiasi Siber Indonesia (AMSI) Wenseslaus Manggut mengatakan, di media digital, perusahaan pers hanya sebagai produsen konten. Adapun distribusi konten dikendalikan perusahaan teknologi.

Saat ini, kunjungan pelanggan langsung ke laman berkisar 20 persen, sisanya 80 persennya dari platform lain, seperti Google dan Facebook. Kencenderungan mencari konten dari Google sangat tinggi sehingga, jika konten tidak muncul di  mesin pencarian Google, media akan kehilangan pengunjungnya.

Kini, ada tuntutan untuk membenahi distribusi konten oleh platform teknologi agar produksi konten dari setiap orang yang bernada hoaks, ujaran kebencian, ataupun pers receh tidak mudah menyebar.

”Perlu dibenahi supaya ekosistem yang sekarang ini bisa semakin sehat. Supaya dalam pendistribusian konten bisa mendeteksi mana yang hoaks, ujaran kebencian, supaya iklan tidak masuk ke situ. Dewan Pers sedang berusaha ke situ. Dalam pembenahan ekosistem ini penting juga adanya intervensi negara agar jangan terjadi kekacauan,” tutur Wenseslaus yang juga COO Kapanlagi.

Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, Afdal Makkuraga Putra, mengatakan, perkembangan media massa tidak bisa dipisahkan dari industri, pemerintah, masyarakat, dan teknologi. Teknologi digital mampu mengubah wujud perkembangan industri. Dengan penyediaan infrastruktur internet  yang semakin baik, selera masyarakat mencari informasi pun berubah, tidak lagi ke media cetak, tetapi digital.

”Ada masa depan sekaligus tantangan untuk media arus utama saat ini,” ujar Afdal.

Oleh  ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor:   ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas,   8 Mei 2021

No comments:

Post a Comment

Prawacana

Media Arus Utama Lebih Percaya Diri Merambah Digital

  Disrupsi digital tak lagi dimaknai sebagai hambatan oleh media arus utama, tetapi sebuah peluang untuk lebih mengembangkan konten yang ber...